"Cintamu kepada Salman salah alamat" "cintamu sendiri tidak kesasar?" "Keliru kalau Fani mengira Mbak masih mencintai Salman" "Jadi kamu sudah tidak mencintainya lagi tapi masih tidak rela perempuan lain memilikinya? Termasuk adikmu sendiri"
Karena kesalhan di masa remajanya, kesempatan Wita untuk menjadi seorang ibu sangat kecil. Dokter melarangnya hamil. Karena kehamilan dapat membahayakan jiwanya.
"HAi Cina" Sapa Rio sambil tersenyum mesra. "Hai, Batak" sahut Nina, gemetar menahan gejolak emosi yang hampir meruntuhkan air matanya.
"Mengapa tiba-tiba melamarku?" "Karena aku tertarik padamu. ada jawaban lain yang kamu harapkan?" "Kamu selalu se PD ini didepan seorang wanita" "Itu satu-satunya modalku". Tidak, pikir Ruri. Kamu punya banyak kelebihan. Tapi alasanku menerima lamaranmu cuma satu. Kamu kakak ipar Mauris Herdadi. Dengan menikahimu, aku dapat selalu berada didekan mantan pacarku!
"Aih, Tiek, kelewatan deh kamu! Dia kan pantas jadi bokap kita!" "Ah kuno! Cinta sih nggak kenal umur!" "Cinta? nggak salah denger oom-oom yang sudah karatan gitu?!"
Dilorong sebuah rumah sakit yang telah sepi, ketika malam telah merangkul bumi, seorang anak perempiuan kecil yang buta memanjatkan sepenggal doa yang meharukan, "Kalau Tuhan cuma mau mengabulkan satu permintaan saja, tolong kabulkan permintaan Pinta! Jangan permintaan Ari! Ari selalu berdoa supaya Pinta bisa lihat lagi. Tapi Pinta sudah lama buta. Sama saja, Tapi Ari biasanya bisa lihat. Bis…
"Tolong Ananta! Danila! Dia mencoba bunuh diri!" Suara permadi di telpon terdengar amat gugup. Bingung. Nyaris panik.
"Jadi mahligai perkawinan kita benar-benar sudah runtuh?" "Mahligai perkawinan kita ibarat rumah di atas pasir. Tidak ada fondamen kuat yang menopangnya bila angin kencang bertiup. Raasanya sia-sia saja kita mempertahankannya"