Text
Menebus pendidikan yang tragis : catatan reflektif seorang guru
Jika tidak ada wahyu maka liarlah rakyat", begitu bunyi sebuah amsal. Wahyu pada zaman ini adalah visi. Artinya, milai-nilai kehidupan yang menjadi kiblat sebuah konsep. lembaga organisasi, masyarakat, atau pun kurikulum. Pemimpin dan pengambil keputusan boleh berganti sehari tiga kali, tetapi yang mengikat sebuah masyarakat, yang menuntun rakyat, yang mendinamisasi sebuah kurikulum adalah visi alias wahyu.
Tanpa didasarkan pada visi; praksis pendidikan akan berlangsung secara tambal sulam, kebijakan-kebijakan yang diambil para penentu kebijakan hanya berdasar pada mood sesaat pendidikan hanya menjadi alat melanggengkan primordialisme tertentu bahkan dipolitisir, lebih parah lagi justru mecerabut peserta didik dari akar lingkungan dan dirinya sendiri. Padahal tujuan akhir pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda. Seluruh nasir pendidikan (baca: persekolahan) diharapkan membawa siswa sebagai orang muda menjadi human. mencapai tingkat insani. Interaksi pendidikan harus menempatkan siswa-guru-sekolah swasta sebagai subjek. bukan sebagai objek. Tak perlu ada lagi mobilisasi siswa untuk kepentingan tertentu: tak perlu pula guru yang sekedar menjadi objek kurikulum atau justru objek dari keberadaan ekonomi dan status sosialnya, sekolah swasta tak perlu lagi dianggap sebagai pesaing sekolah negeri bahkan menjadi "sapi perah" bagi Depdiknas.
Visi pendidikan yang jelas pada gilirannya akan membantu menebus pendidikan yang selama ini tergadai!
Tidak tersedia versi lain