Text
Indonesia menggugat
Rakyat Indonesia sudah bersedia dengan hati yang memukul- mukul akan menghormati terbitnya matahari itu. Dengan rakyat Indonesia itu kami menderita kesengsaraan, dengan rakyat Indone- sia itu kami menunggu putusan Tuan-tuan Hakim.
Memang kami berdiri di hadapan mahkamah Tuan-tuan ini bukanlah sebagai Sukarno, bukanlah sebagai Gatot Mangkoepradja, bukanlah sebagai Maskoen atau Soepriadinata, kami orang berdiri di sini ialah sebagai bagian daripada rakyat Indonesia yang berkeluh kesah itu sebagai putra-putra Ibu Indonesia yang setia dan bakti kepadanya. Suara yang kami keluarkan di dalam gedung mahkamah sekarang ini, tidaklah tinggal di antara tembok dan dinding-dinding- nya saja, suara kami ini adalah didengar-dengarkan pula oleh rakyat yang kami abdii, mengumandang ke mana-mana, melintasi tanah datar dan gunung dan samudra, ke Kota Raja sampai ke Fak-fak, ke Ulu Siau dekat Menado sampai ke Timor. Rakyat Indonesia yang mendengarkan suara kami itu, adalah merasa mendengarkan suara- nya sendiri.
Putusan Tuan-tuan Hakim atas usaha kami orang, adalah pu- tusan atas usaha rakyat Indonesia sendiri, atas usaha Ibu Indonesia sendiri. Putusan bebas, rakyat Indonesia akan bersyukur, putusan tidak bebas, rakyat Indonesia akan tafakur.
Kami memujikan Tuan-tuan mempertimbangkan segala hal-hal ini. Dan sekarang di dalam bersatu hati dengan rakyat Indonesia itu, di dalam bakti dan bersujud kepada Ibu Indonesia yang kami cintai itu, di dalam kepercayaan bahwa rakyat Indonesia dan Ibu Indo- nesia akan terus nanti menjadi mulia, nasib yang bagaimanapun juga mengenai kami, maka kami siap sedia mendengarkan putusan Tuan-tuan Hakim!
(Kata-kata terakhir pembelaan Bung Kamo)
Tidak tersedia versi lain