Text
Hujan di Akhir Kemarau
Perkawinan Gita Asmara dengan Hadi mulai retak justru setelah ekonomi mereka mengalami kemajuan. Hadi sering menghujani Gita dengan berbagai pakaian bagus dan perhiasan mewah, tapi bukan karena ingin menyenangkan sang istri melainkan demi gengsi dan melancarkan pembicaraan bisnisnya. Selain itu pernikahan mereka belum juga dikaruniai anak. Puncak kehancuran perkawinan mereka terjadi ketika Gita memergoki Hadi bersama perempuan lain yang menggendong bayi yang wajahnya sangat mirip suaminya itu.
Untuk mengobati perasaannya yang terluka, Gita berlibur ke Jawa Tengah dan Bali. Selain untuk mencari suasana lain, dia ingin mencari inspirasi untuk melanjutkan hobinya menulis novel.
Sayang sekali, di sana Gita malah bertemu pria yang amat menyebalkan, sombong, dan sering memandang rendah semua perempuan. Bagi pria bernama Bagus itu semua perempuan manja, mau menang sendiri, dan tidak kreatif.
Mereka bahkan pernah bertengkar ketika kebetulan menginap di kamar bersebelahan di hotel di Bali. Bagus marah karena terganggu suara mesin ketik Gita yang berbunyi nyaris sepanjang malam. Akibatnya Gita pindah penginapan dan beberapa hari kemudian kembali ke Jawa.
Ketika mengetahui Gita menghilang, Bagus mulai merasa bersalah. Maka dengan tak kentara dia mencoba menelusuri keberadaan Gita. Tanpa sadar, Bagus mengakui Gita berbeda dari wanita-wanita yang ditemuinya selama ini.
Tidak tersedia versi lain