Text
Asmat: Menyingkap Budaya Suku Pedalaman Irian Jaya
Orang Asmat bertempat tinggal di pesisir barat daya Irian Jaya, hidup di hutan-hutan bakau yang diapit sungai-sungai lebar di dataran melandai. Mereka menghuni tanah becek tak berbatu sama sekali, penuh rawa berair payau di sekitarnya. Perkampungan mereka terdapat di sepanjang sungai, di atas rumah panggung yang berhadapan satu sama lain. Hidup tanpa mengenal alat besi, mengumpulkan makanan dari hutan dan berburu serta menangkap ikan. Bangunan rumah semua dari kavu dan rotan, beratap gaba-gaba atau rumbia dan berlantai panggung dari gagar kulit nibung. Dunia luar banyak mengenal Asmat dari "keliaran"-nya saja. Tetapi siapakah orang Asmat sebenarnya. Asmat ow kaenak anakar! (Orang Asmat sungguh-sungguh manusia sejati!). demikian ucapan nenek moyang mereka. Fumiripits, Sang Pencipta, telah menciptakan orang Asmat dan mewariskan nilai-nilai budaya yang tinggi. Menurut kepercayaan tradisional Asmat, Fumiripits membuat patung-patung. Dikumpulkannya obat-obatan dan digosokkan pada tifa. Tifa dipukul dan patung-patung bergerak menari, inilah asal mulanya manusia Asmat. Kehadiran orang Asmat di panggung ketenaran tak salah lagi dilakukan para seniman pemahatnya (wow-ipits). Dengan keterampilan tangan yang mengagumkan, mereka menata kayu menjadi benda seni yang membuat dunia berdecak. Keahlian mereka, menempatkan para wow-ipits ini dalam posisi yang penting di kalangan warganya. Tangan mereka menciptakan peralatan-peralatan kayu untuk kepentingan ritus, berbeda dengan warga lain yang cuma mempergunakan kayu untuk kebutuhan konsumsi. Dan memang, kayu adalah kehidupan bagi orang Asmat.
Tidak tersedia versi lain