Text
Anak, antara Kekuatan Gen & Pendidikan
Diakui atau tidak, anak adalah sosok harapan orang tua, masyarakat, bahkan seluruh umat manusia. Syaratnya, anak yang dimaksud memiliki kepekaan etis dan kualitas intelegensi yang tinggi, berbakat, serta menyandang pelbagai sifat luhur. Di luar itu adalah anak kacingcalang (bahasa Sunda, maksudnya adalah sesuatu yang membusuk dan mengeluarkan bau menyengat yang sangat tidak sedap kiasan dari seorang anak yang tidak berkualitas dalam segenap hal, serta berwatak jahat dan suka berbuat onar)
Kalau setiap orang ditanya tentang siapakah yang pantas disanjung dan diharapkan di antara keduanya, pasti akan menjawab anak yang pertama disebutkan, bukan yang terakhir. Pasalnya, persoalan ini merupakan sesuatu yang badihi (teramat jelas sehingga tidak memerlukan penjelasan yang rumit).
Sayang, kebanyakan orang hanya mampu menjawab seraya menutup mata terhadap keharusan dirinya untuk mewujudkan jawabannya itu. Dengan kata lain, mereka hanya 'tahu', tetapi 'tak mau tahu' terhadap tuntutan yang terkandung dalam pengetahuannya itu. la begitu berse-mangat mengharapkan anak orang lain tumbuh dalam kebajikan dan kebenaran. Padahal, pada saat bersamaan, anaknya sendiri justru tengah bergelimang kenistaan dan dosa. Inilah sikap seorang penonton yang hobi bersorak dan mengkritik, namun lupa diri dan menolak terlibat di dalam prosesnya.
Profesor Muhammad Taqi Falsafi merupakan salah satu dari segelintir orang yang memiliki keprihatinan mendalam tentang nasib anak-anak di masa mendatang. Darinya kemudian lahirlah mahakarya ini. Secara serius, penulis yang berwawasan luas namun sepengetahuan kami-amat rendah hati ini menguraikan seluk-beluk persoalan anak yang terbentang mulai dari gen yang diwariskan hingga pendidikannya; juga soal prasyarat yang harus dipenuhi dalam membina mental, kepribadian, dan pemikirannya.
Tidak tersedia versi lain